Kesalahan Saat Investasi Reksadana yang Sering Terjadi

Kesalahan Saat Investasi Reksadana – Reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang banyak di minati, terlebih oleh para investor pemula. Pasalnya investasi reksadana merupakan investasi yang memiliki risiko cukup kecil jika kita bandingkan dengan instrumen investasi lainnya seperti saham.

Walaupun risiko nya yang kecil, namun tentunya perlu analisa yang baik ketika memilih untuk berinvestasi di reksadana. Karena bagaimanapun setiap orang tentunya mempunyai manajemen risiko nya masing-masing dalam berinvestasi.

Reksadana sendiri terdiri dari empat jenis, yakni Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Saham dan Reksadana Campuran. Ke-empat jenis reksadana tersebut tentunya memiliki risiko dan return yang berbeda. Sebagai contoh Reksadana Pasar Uang atau RDPU, merupakan salah satu jenis reksadana dengan risiko yang paling kecil.

Tentunya sebagai seorang investor penting untuk memilih jenis reksadana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing. Jangan hanya ikut-ikutan dan akhirnya terjebak kedalam investasi yang salah atau tidak sesuai dengan profil risiko kamu.

Kesalahan Umum Dalam Investasi Reksadana

Ketika berinvestasi pada instrumen Reksadana, tidak jarang para investor mengabaikan beberapa hal umum yang bisa berdampak besar.

Terlebih bagi kamu yang masih pemula dalam dunia investasi, tidak jarang kesalahan berikut ini kamu lakukan. Oleh karena itu pada artikel kali ini akan kita bahas beberapa kesalahan umum dalam investasi reksadana.

1. Asal Dalam Memilih Produk

Ketika berinvestasi di Reksadana tidak jarang para investor, terlebih para pemula yang asal dalam memilih produk Reksadana.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:  Bisa Gak Sih Investasi Dengan Gaji Kecil? Berikut Kiatnya

Terlebih dengan berkembangnya zaman, membeli reksadana dapat kita lakukan dengan mudah melalui smartphone. Hal tersebut menjadi pemicu para investor asal dalam memilih produk.

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, reksadana terdiri atas 4 jenis dengan tingkat return dan risiko yang berbeda masing-masingnya. Itulah mengapa penting untuk mempertimbangkan jenis reksadana yang sesuai untuk kamu.

Beberapa pertimbangan yang bisa kamu lakukan misalnya seperti jangka waktu, tingkat risiko, besaran return, manajer investasi dan lainnya. Pastikan untuk menyesuaikannya dengan profil risiko dan manajemen investasi kamu.

2. Males Membaca Fund Fact Sheet

Untuk menganalisa bagus tidaknya suatu Reksadana yang di kelola oleh manajer investasi, kita bisa mengetahuinya salah satunya melalui Fund Fact Sheet.

Kamu bisa dengan mudah membaca atau mencari tau FFS setiap reksadana melalui aplikasi reksadana yang kamu miliki. Namun sayangnya tidak jarang para investor yang mengabaikan langkah ini dan langsung membeli reksadana.

Padahal dengan membaca FFS ini kita bisa mengetahui atau menganalisis reksadana yang ingin kita beli. Sebagai contoh rekam jejak Reksadana di masa lalu, atau pembagian dana kelolaan dan lain sebagainya.

3. Membeli Pada Harga Tinggi

Kesalahan umum lainnya yang sering terjadi saat berinvestasi pada Reksadana yakni membeli pada harga tinggi. Jenis reksadana dengan fluktuasi harga yang cukup tinggi yakni Reksadana Saham.

Tidak jarang para investor mengabaikan hal ini dan membeli reksadana saham pada harga yang sudah terlampau tinggi. Itulah mengapa penting untuk melakukan analisa layaknya instrumen investasi lainnya, misalnya dengan membandingkan harga unit penyertaan pada saat ini dengan beberapa waktu kebelakang.

Membeli reksadana saham pada harga tinggi tentunya akan meningkatkan risiko dalam berinvestasi. Jadi alangkah baiknya untuk menganilisa reksadana yang ingin kamu beli terlebih dahulu dengan baik.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:  Strategi Investasi Untuk Ibu Rumah Tangga Tanpa Ribet!

4. Tidak Memiliki Tujuan Atau Manajemen

Dalam berinvestasi di berbagai instrumen investasi manapun, penting untuk menentukan tujuan investasi kita. Dengan menentukan tujuan tersebut kita bisa melakukan manajemen yang lebih baik dalam berinvestasi.

Jangan sampai kamu berinvestasi tanpa tahu tujuannya, akibatnya investasi yang kamu lakukan menjadi tidak optimal. Sebagi contoh kamu ingin menyiapkan uang darurat, maka kamu bisa memilih reksadana pasar uang. Alasanya yakni karena risiko RDPU termasuk kecil dengan return yang lumayan bahkan lebih besar dari Deposito.

Dengan menentukan tujuan investasi, kamu bisa menyesuaikan manajemen investasi dengan lebih baik.

Picture by Yasin Yusuf on Unsplash

Leave A Reply

%d blogger menyukai ini: